Nandanataria’s Weblog











{October 6, 2008}   Ku Diajari Pohon

Ada banyak pohon yang tumbuh di halaman depan dan sepanjang jalan rumahku. Tapi yang satu ini berbeda dari pohon lainnya.

Tunggu!!!

Sebelumnya aku ingin memberi tahu tentang diriku yang kini tengah berusia 22 tahun..Namaku Aira.

Aneh, mungkin itu yang bisa ku katakan pada kalian, ketika aku baru mengetahui bahwa pohon yang satu itu berbeda dari yang lainnya ketika aku kini berusia 22 tahun. Padahal setiap hari aku tak pernah absen melewati jalan tempat pohon itu tumbuh. Sebelum aku bercerita tentang keunikan pohon yang satu itu, aku akan bercerita sedikit tentang diriku.

Aku lahir dari keluarga yang bisa dibilang berkecukupan. Tidak lebih, juga tidak kurang. Yah.. ketika aku ingin membeli satu jeruk aku bisa membelinya seketika itu juga. Bahkan ketika aku ingin pergi ke puncak gunung, aku pun bisa sampai di sana seketika itu juga. Tapi aku tak pernah pergi kemanapun sendirian, aku pun tak pernah mendapatkan semua hal yang aku inginkan sendirian. Aku hanya bisa keluar hanya sampai sebelum matahari terbenam. Yang aku pikirkan hanya diriku, dan mereka yang selalu memenuhi kebutuhan hidupku. Aku memang mengetahui setiap sudut rumahku, mungkin lebih dari yang lain karena hampir separuh waktu ku habiskan di rumah, tapi tidak untuk pohon unik yang ternyata ada dekat di luar rumahku.

Sepintas pohon itu memang tak berbeda dari yang lainnya. Gagah menjulang, Rindang, sesekali berbunga, sejuk sekali jika kita berada di bawahnya. Padahal, jika dipikir, di rumahku jauh lebih nyaman. Sejuk meskipun panas matahari terasa seperti panggangan di luar sana. Meskipun riuh ramai hiburan jalanan tak pernah sepi pertunjukan-pertunjukan dan jamuan-jamuan yang selalu membuat orang-orang betah berlama-lama berada di sana.

Lalu kenapa sekarang aku betah berlama-lama berada di dekat pohon itu??

Padahal aku tidak akan mendapatkan seperti apa yang aku punya di rumah.

Pohon itu memang terlihat sama dengan pohon-pohon lainnya, tapi ketika kau mendekatinya kau akan menemukan bahwa pohon itu hidup di atas tanah yang sangat sempit. Jauh berbanding terbalik ketika kau melihat fisik pohon tersebut. Akupun sering tak bisa duduk di bawahnya karena bukan hanya sempit, tetapi juga karena becek mungkin karena tetesan-tetesan embun dari dedaunan pohon-pohon itu yang jumlahnya sangat banyak. Selain itu, bila kau ingin membawa sebilah bibit pohon tuk kau tanam di halaman rumahmu, pohon itu akan tumbuh jauh lebih indah dari pohon induknya, termasuk saat ku menanamnya di halaman rumahku, tapi kenapa aku tetap menyukai induk pohon itu dan betah ada berlama-lama di sana?

Suatu saat aku melihat banyak sekali ulat yang menggerogoti tiap jengkal tubuh pohon itu.

Keesokaannya, setelah semua rutinitasku selesai, aku kembali melewati pohon unik tersebut. Coba bayangkan, apa yang aku lihat kali ini?

Aku melihat sekerumunan burung-burung kecil yang sedang bernyanyi merdu, berjajar rapi di atas ranting. Di pucuk-pucuknya nampak kelopak-kelopak warna-warni yang begitu indah, harum dan amat memikat bagi lebah-lebah dan kumbang-kumbang manapun yang melihatnya. yang memakani salah satu buah di pohon itu, tetapi ketika mataku melihat sisi lain pohon itu, ada lebih banyak buah yang wanginya ranum sekali. Kau tak kan tahan untuk memetik dan memakannya. Lalu aku memetik semuanya untuk ku makan di rumah.

Ternyata yang mengambil buah-buahan dari pohon itu tak Cuma aku seorang. Ketika ku melihat sisi lain pohon itu, aku melihat ada banyak yang ikut mengambil buah-buah itu, tak hanya manusia, banyak hewan-hewanpun ikut antri untuk mengambilnya.

Keesokannya lagi, aku kembali lewat jalan itu dan melihat pohon itu, akupun berharap masih bisa mendapati pohon itu berbuah tuk ku bawa pulang dan memakannya lagi. Namun bak Jauh Panggang dari api, bukan buah ataupun bunga yang aku lihat adalah orang-orang yang menebangi bagian batang-batang pohon itu untuk dicangkok dan ditanamnya sendiri. Pohon itu pun seperti pasrah dan tak berkutik diperlakukan seperti itu. Hingga hanya tertinggal ranting-ranting layu.

”Ternyata bukan Apa yang sudah aku dapat, tapi Apa yang bisa aku berikan.

Bukan siapa yang sudah membuatmu sengsara tapi siapa yang sudah tersenyum bahagia karena kau ada di sisinya”

Pohon itu justru terus berbuah dan berbunga.

Sejak itu, aku tak lagi hanya memikirkan diriku dan hatiku, karena masih banyak keunikan yang indah di luar sana.



Krisis Ekonomi Dalam Dinamika Dunia Perbankan Syariah Indonesia

Krisis Ekonomi yang melanda Indonesia pada akhir tahun 1997 telah mengguncang hampir di seluruh aspek perekonomian di Indonesia termasuk dalam sektor perbankan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya bank-bank yang mengalami likuiditas karena kredit macet namum hal ini tidak dialami oleh perbankan syariah. Walaupun perbankan syariah di Indonesia baru lahir pada tahun 1992.

               Perkembangan perbankan syariah di Indonesia telah memasuki babak baru. Pertumbuhan industri perbankan syariah yang kini telah beroperasi 3 bank umum syariah, 25 Unit Usaha Syariah dan 107 Bank Perkreditan Rakyat[1], telah bertranformasi dari hanya sekedar memperkenalkan suatu alternatif praktik perbankan syariah menjadi bagaimana bank syariah menempatkan posisinya sebagai pemain utama dalam percaturan ekonomi di tanah air. Bank syariah memiliki potensi besar untuk menjadi pilihan utama dan pertama bagi nasabah dalam pilihan transaksi mereka. Hal itu ditunjukkan dengan akselerasi pertumbuhan dan perkembangan perbankan syariah di Indonesia.
               Setelah diakomodasinya Bank Syariah pada Undang-Undang Perbankan No. 10/1998, maka dari tahun 2000 hingga tahun 2004, dapat dirasakan pertumbuhan Bank Syariah cukup tinggi, rata-rata lebih dari 50% setiap tahunnya. Bahkan pada tahun 2003 dan 2004, pertumbuhan Bank Syariah melebihi 90% dari tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi, pada tahun 2005, dirasakan ada perlambatan, meskipun tetap tumbuh sebesar 37%. Akan tetapi, walaupun dirasakan pertumbuhan Bank Syariah di Indonesia melambat pada tahun 2005, sebenarnya pertumbuhan sebesar itu merupakan prestasi yang cukup baik. Perlu disadari, bahwa di tengah tekanan yang cukup berat terhadap stabilitas makroekonomi secara umum dan perbankan secara khusus, kondisi industri perbankan syariah tetap memperlihatkan peningkatan kinerja yang relatif baik. Di samping itu, dapat pula difahami, bahwa meskipun share bank syariah pada akhir tahun 2005 baru 1,46%, namun hal tersebut telah menunjukkan peningkatan yang luar biasa dibandingkan share pada tahun 1999 yang hanya 0,11%[2].
 
               Bank Indonesia dan para stakeholder yang terlibat lainnya yakin bahwa 
pengembangan Bank Syariah dianggap masih mempunyai prospek yang tinggi, jika kendala jaringan dapat diatasi. Hal tersebut diyakini karena peluang yang besar dan dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut[3]:
  1.          Respon masyarakat yang antusias dalam melakukan aktivitas ekonomi dengan menggunakan prinsip-prinsip Syariah;
  2.          Kecenderungan yang positif di sektor non-keuangan/ ekonomi, seperti system pendidikan, hukum dan lain sebagainya yang menunjang 
pengembangan ekonomi Syariah nasional.
  3.          Pengembangan instrumen keuangan Syariah yang diharapkan akan 
semakin menarik investor/ pelaku bisnis masuk dan membesarkan industri 
Perbankan Syariah Nasional;
  4.          Potensi investasi dari negara-negara Timur Tengah dalam industri 
               Salah satu aspek yang paling mempengaruhi perkembangan perbankan syariah yakni melalui pengembangan instrumen keuangan syariah dan penerapanya melalui jasa-jasa yang diberikan baik fungsinya sebagai Penghimpun Dana maupun Penyalur dana masyarakat. Dalam kegiatannya, Perkembangan sebuah bank dapat dilihat dari Analisis Laporan Keuangannya tidak terkecuali dalam dunia perbankan syariah  Sebuah bank dinilai berkembang apabila terjadi peningkatan terhadap aktiva dan minimnya kredit bermasalah. 
               Salah satu prinsip ekonomi syariah dalam penerapan dalam sektor Investasi hanya boleh diberikan pada usaha-usaha yang tidak diharamkan dalam Islam[4]. Dengan demikian Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang selama ini kurang dilirik oleh dunia perbankan konvensional Indonesia seharusnya dapat menjadi lahan yang dapat digarap secara intensif oleh  dunia perbankan syariah sehingga pengembangan perbankan syariah dapat terpola pada pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

PRODUK dan JASA PERBANKAN SYARIAH

Bank Syariah

PENGHIMPUNAN

DANA

Prinsip Wadiah:

  • Giro
  • Tabungan

JASA – JASA

PENYALURAN DANA

Prinsip Jual-Beli:

  • Murabahah
  • Istishna
  • Salam
  • Wakalah
  • Kafalah
  • Sharf
  • Qardh
  • Rahn
  • Hiwalah
  • Ijarah

Prinsip Mudharabah:

  • Tabungan
  • Deposito

Prinsip Sewa :

  • Ijarah

Prinsip Bagi Hasil:

  • Mudharabah
  • Musyarakah

Usaha Kecil dan Menengah sebagai Dinamisator Pengembangan Perbankan Syariah Di Indonesia

Dampak lain akibat Krisis Ekonomi yang melanda Indonesia akhir tahun 1997 telah membuat perusahaan akhirnya terpaksa gulung tikar dan secara otomatis menambah panjang daftar jumlah pengangguran di Indonesia. Dampaknya adalah peningkatan kemiskinan. Kategori kemiskinan sendiri terbagi menjadi dua yakni The Extremly Poor dan The Economically Active Poor[5]. The Extremely Poor dalam artiannya adalah kelompok miskin yang benar-benar tidak memiliki penghasilan sedangkan The Economically Active Poor merupakan kelompok para pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

Di tengah guncangan ini, UKM muncul sebagai payung penyelamat perekonomian Indonesia. Usaha Kecil, dan Menengah (UKM) merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia dan terbukti menjadi katup pengaman perekonomian nasional dalam masa krisis, serta menjadi dinamisator partumbuhan ekonomi pasca krisis ekonomi (www.ktin.org.id). Secara riil UKM (Usaha Kecil Menengah) juga sebagai sektor usaha yang paling besar kontribusinya terhadap pembangunan nasional,

Keterangan

Jumlah

Persentasi

Jumlah UKM

42,3 juta

99,90 % dari total jumlah unit usaha

Penerapan Tenaga Kerja

79 juta

99,40 % dari total angkatan kerja

Kontribusi UKM dalam pembentukan PDB

56,70 %

Kontribusi UKM dalam Devisa Negara melalui ekspor

Rp 75,80 triliun

19,90 % dari total nilai ekspor

Tabel 1.1. Jumlah UKM dan Kontribusinya. Badan Pusat Statistik 2003. (diolah)

Potret rendahnya UKM tersebut terlihat dari perlakuan yang seolah teranaktirikan, baik oleh pemerintah, dalam hal ini sebagai pembuat kebijakan dan wadah mereka bernaung, maupun oleh dunia perbankan yang dalam hal ini sebagai penopang sektor moneter. Imbasnya adalah sikap para pelaku UKM yang cenderung anti terhadap dunia perbankan.

Keterangan

Tingkatan

prosedur sulit

30,30 %

Tidak berminat

25,34 %

Tidak punya agunan

19,28 %

Tidak tahu prosedur

14,33 %

Suku bunga tinggi

8,82 %

Proposal ditolak

1,93 %

Tabel 1.2. Alasan utama yang dikemukakan oleh UKM kenapa mereka tidak meminjam ke bank. Badan Pusat Statistik 2003 (diolah)

Namun dalam perkembangannya, UKM memiliki keterbatasan dalam berbagai hal, diantaranya keterbatasan mengakses informasi pasar, keterbatasan jangkauan pasar, keterbatasan jaringan kerja, dan keterbatasan mengakses lokasi usaha yang strategis selain masalah klasiknya yang utama adalah dalam hal pendanaan.

Keterangan

Tingkat Kesulitan

Permodalan

51,09 %

Pemasaran

34,72 %

Bahan baku

8,59 %

Ketenagakerjaan

1,09 %

Distribusi transportasi

0,22 %

Lainnya

3,93 %

Tabel 1.3. Tingkat kesulitan UKM. BPS 2003 (diolah)

Sedangkan Modal merupakan salah satu bagian terpenting bagi UKM sebagai penopang biaya produksi mereka.

Small, Medium Enterprise

Tujuan Kredit : investasi dan Modal Kerja

Besaran Kredit : < 500 juta

Debitur adalah perusahaan skala kecil dan menengah. Bisnis Perorangan

Biasanya Tidak Memiliki Laporan Keuangan yang Reliable sehingga validasi terhadap perusahaan dilakukan dengan cara lain seperti review invoice, review bank statement dan review pengeluaran.

Memerlukan jaminan

Mikro

Tujuan Kredit : Modal Kerja

Besaran Kredit : < 50 juta

Debitur adalah perorangan seperti pedagang di pasar, industri rumahan dll.

Tidak memiliki laporan keuangan, verifikasi melalui observasi transaksi bisnis, character checking.

Umumnya tidak memerlukan jaminan, sehingga suku bunga yang dikenakan akan lebih tinggi dari yang lain. Misal 30 % – 35 % pertahun

Peran Shareholders (Bank Syariah)

Di sinilah Bank Syariah akan sangat berperan dalam melakukan analisis terhadap unit-unit usaha yang Visible tetapi Tidak Bankable ataupun sebaliknya. Fokus analisis ini bisa dipusatkan pada sektor riil dengan subsektor tanaman pangan dan hortikultura (jagung, kedelai, kacang tanah, ubi kayu, ubi jalar, bawang merah, kentang, sawi, tomat, durian, jeruk, nenas, dan pisang) dan perkebunan (kelapa sawit, karet, kelapa, kopi, dan kakao), subsektor perikanan, subsektor peternakan (sapi, kambing, kerbau, unggas, serta hasil-hasil ternaknya), kehutanan (berbagai jenis kayu dan hasil olahannya) serta perkebunan kelapa sawit dan ladanya yang sangat potensial.

Peranan bank syariah tak hanya sebagai mutlak penyandang dana, tetapi lebih dari itu dapat melakukan pengembangan proyek yang sedang digarapnya dalam hal ini kegiatan UKM melalui Human Resource Development (HRD) yang dapat melalukan pelatihan dan pengembangan UKM. Terkait dengan kondisi UKM yang tidak secara keseluruhan tidak hanya memiliki laporan keuangan yang tidak lengkap, pada umumnya sektor usaha ini juga hanya memiliki struktur organisasi yang sederhana dan tidak memiliki Human Resource Development Depatment, maka peranan HRD di sini dapat di wadahi oleh Badan Diklat Departemen Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Dept KUKM) atau melalui organisasi-organisasi yang terkait dalam pembiayaan UKM seperti Lembaga Keuangan Mikro (LKM), maupun kelompok-kelompok Swadaya masyarakat lainnya yang dapat dikategorikan sebagai Community Based Development Ornganization (CBDO)

Diharapkan ke depannya Unit-unit usaha Kecil dan Menengah dapat memiliki prospek yang menjanjikan yang akan menjadi indikator perkembangan perbankan syariah khususnya peningkatan ekonomi makro dengan pola ‘Bottom-Up’.

PEMBAHASAN

  • Framework Islamic Microenterprise sebagai Solusi Pengembangan Perbankan Syariah

Managing Council Policy

Managing Council Policy

Syura

Syura

Economic Cell :

Development Marketing

Resource Mobilization Instrument

Policy Implementation

Development Marketing Resource Mobilization Instrument Policy Implementation

Planners

Planners

Financial Cell :

Banking Instrument

Policy Implementation

Retained Earnings

Develop Fund

 

Banking Instrument Policy Implementation Retained Earnings Develop Fund

Marketing Organizational Institutional Matters

Marketing Organizational Institutional Matters

Researchers Engineers Development planners

Researchers Engineers Development planners

Human Resource Development

Human Resource Development

Shareholders

Shareholders

Dynamic Change

Dynamic Change

Technical Methods

Technical Methods

Computers and other equipment use

Computers and other equipment use

Consciousness

Consciousness

Participatory Methods

Participatory Methods

Pola pembiayaan pada bank syariah yakni lebih terfokus pada sistem Murabahah sedangkan untuk sistem pembiayaan Mudarabah dan Musyarakah dirasa masih amat kurang terutama untuk sektor riil. Padahal dengan fokus pembiayaan pada sektor riil akan menghasilkan banyak keuntungan baik bagi sektor riil dan perbanknan secara langsung maupun dalam sistem ekonomi makro dan mikro di Indonesia.

Pertama, akan menggairahkan produktivitas sektor riil. Investasi akan meningkat, yang disertai dengan pembukaan lapangan kerja baru. Akibatnya tingkat pengangguran akan dapat dikurangi dan pendapatan masyarakat akan bertambah. Kemudian yang kedua, ditinjau dari sisi nasabah. Nasabah akan memiliki 2 pilihan, apakah akan mendepositokan dananya pada bank syariah atau bank konvensional. Nasabah akan membandingkan secara cermat antara expected rate of return yang ditawarkan bank syariah dengan tingkat suku bunga yang ditawarkan oleh bank konvensional,

Dampak selanjutnya adalah dapat mengurangi peluang terjadinya resesi ekonomi dan krisis keuangan. Hal ini dikarenakan bank syariah adalah institusi keuangan yang berbasis aset (asset-based). Artinya, bank syariah adalah institusi yang berbasis produksi (production-based). Bank syariah bertransaksi berdasarkan aset riil dan bukan mengandalkan pada kertas kerja semata. Pola pembiayaan mudarabah dan musyarakah adalah pola pembiayaan yang berbasis pada produksi. Krisis keuangan pun dapat diminamilisir karena balance sheet perusahaan relatif stabil. Hal ini dikarenakan posisinya sebagai mudarib, dimana perusahaan tidak menanggung kerugian yang ada, apabila kerugian tersebut disebabkan oleh kondisi luar biasa yang tidak diprediksikan sebelumnya, misalnya diakibatkan oleh bencana alam. Maksudnya, keadaan tersebut terjadi secara tidak sengaja dan diluar batas kemampuan. Dengan demikian, semua beban kerugian akan ditanggung oleh bank syariah sebagai rabbul maal. Selanjutnya, pola mudarabah dan musyarakah dapat menjadi solusi alternatif atas problem overlikuiditas yang saat ini terjadi.,hal ini merupakan indikator yang dijadikan alasan bagi bank syariah untuk menggarap sektor riil secara lebih serius melalui pembiayaan berdasarkan skema mudarabah dan musyarakah.

Prinsip Musyarakah[6]

Bentuk umum dari usaha bagi hasil adalah musyarakah (syirkah atau syarikah atau serikat atau kongsi). Transaksi musyara­kah dilandasi adanya keinginan para pihak yang bekerjasama untuk meningkatkan nilai asset yang mereka miliki secara ber­sama-sama. Termasuk dalam golongan musyarakah adalah se­mua bentuk usaha yang melibatkan dua pihak atau lebih dima­na mereka secara bersama-sama memadukan seluruh bentuk sumber daya baik yang berwujud maupun tidak berwujud.

Secara spesifik bentuk kontribusi dari pihak yang bekerjasa­ma dapat berupa dana, barang perdagangan (trading asset), kewiraswastaan (entrepreneurship), kepandaian (skill), kepemilikan (property), peralatan (equipment) , atau intangible asset (seperti hak paten atau goodwill), kepercayaan/reputasi (credit worthiness) dan barang-barang lainnya yang dapat dinilai dengan uang. Dengan merangkum seluruh kombinasi dari bentuk kontribusi masing-masing pihak dengan atau tanpa batasan waktu menjadikan produk ini sangat fleksibel.

Ketentuan umum:

Semua modal disatukan untuk dijadikan modal proyek musyarakah dan dikelola bersama-sama. Setiap pemilik modal ber­hak turut serta dalam menentukan kebijakan usaha yang dijalankan oleh pelaksana proyek. Pemilik modal dipercaya untuk menjalankan proyek musyarakah tidak boleh melakukan tindak­an seperti:

· Menggabungkan dana proyek dengan harta pribadi.

· Menjalankan proyek musyarakah dengan pihak lain tanpa ijin pemilik modal lainnya.

· Memberi pinjaman kepada pihak lain.

· Setiap pemilik modal dapat mengalihkan penyertaan atau di­gantikan oleh pihak lain.

· Setiap pemilik modal dianggap mengakhiri kerjasama apabila:

Menarik diri dari perserikatan

Meninggal dunia,

Menjadi tidak cakap hukum

· Biaya yang timbul dalam pelaksanaan proyek dan jangka waktu proyek harus diketahui bersama. Keuntungan dibagi sesuai kesepakatan sedangkan kerugian dibagi sesuai dengan porsi kontribusi modal.

· Proyek yang akan dijalankan harus disebutkan dalam akad. Setelah proyek selesai nasabah mengembalikan dana terse­but bersama bagi hasil yang telah disepakati untuk bank.

Sedangkan Prinsip Mudharabah[7]

Secara spesifik terdapat bentuk musyarakah yang popular dalam produk perbankan syariah yaitu mudharabah. Mudhara­bah adalah bentuk kerjasama antara dua atau lebih pihak dima­na pemilik modal (shahibul maal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian pembagian keuntungan. Bentuk ini menegaskan kerjasama de­ngan kontribusi 100% modal dari shahibul maal dan keahlian dari mudharib.

Transaksi jenis ini tidak mensyaratkan adanya wakil shahibul maal dalam manajemen proyek. Sebagai orang kepercayaan, mudharib harus bertindak hati-hati dan bertanggung jawab un­tuk setiap kerugian yang terjadi akibat kelalaian. Sedangkan se­bagai wakil shahibul maal dia diharapkan untuk mengelola mo­dal dengan cara tertentu untuk menciptakan laba optimal.

Perbedaan yang esensial dari musyarakah dan mudharabah terletak pada besarnya kontribusi atas manajemen dan keuangan atau salah satu diantara itu. Dalam mudharabah modal ha­nya berasal dari satu pihak, sedangkan dalam musyarakah mo­dal berasal dari dua pihak atau lebih. musyarakah dan mudhar­abah dalam literatur fiqih berbentuk perjanjian kepercayaan (uqud al amanah) yang menuntut tingkat kejujuran yang tinggi dan menjunjung keadilan. Karenanya masing-masing pihak ha­rus menjaga kejujuran untuk kepentingan bersama dan setiap usaha dari masing-masing pihak untuk melakukan kecurangan dan ketidakadilan pembagian pendapatan betul-betul akan me­rusak ajaran Islam.

Ketentuan umum

· Jumlah modal yang diserahkan kepada nasabah selaku pengelola modal; harus diserahkan tunai, dapat berupa uang atau barang yang dinyatakan nilainya dalam satuan uang. Apabila modal diserahkan secara bertahap, harus jelas tahapannya dan disepakati bersama.

· Hasil dan pengelolaan modal pembiayaan mudharabah dapat diperhitungkan dengan dua cara:

(Perhitungan dari pendapatan proyek (revenue sharing)

(Perhitungan dari keuntungan proyek (profit sharing)

· Hasil usaha dibagi sesuai dengan persetujuan dalam akad, pada setiap bulan atau waktu yang disepakati. Bank selaku pemilik modal menanggung seluruh kerugian kecuali akibat kelalaian dan penyimpangan pihak nasabah, seperti penyeleweng-an, kecurangan dan penyalahgunaan dana.

· Bank berhak melakukan pengawasan terhadap pekerjaan namun tidak berhak mencampuri urusan pekerjaan/usaha nasabah. Jika nasabah cidera janji dengan sengaja misalnya tidak mau membayar kewajiban atau menunda pembayaran kewa­jiban, dapat dikenakan sanksi administrasi.

Namun mengingat UKM masih memiliki berbagai keterbatasan terutama dalam hal manajemen sumberdaya manusia maka diperlukan suatu pengembangan yang dapat dilakukan lebih lanjut oleh bank syariah yang dapat bekerjasama dengan elemen terkait seperti Badan diklat Dept KUKM dan lembaga swadaya masyakat terkait lainnya untuk turut serta mengembangkan UKM melalui HRD.

HRD dalam Kinerja UKM

Peran HRD dalam pengembangan UMKM yang akan bersinergis dengan perkembangan bank syariah. HRD sesuai model Microenterprise yang diterapkan oleh Masudul Alam Choudury akan memberikan pelatihan dan pengambangan baik secara formal maupun informal.

Sumber Ronal Nangoi,. 1997. Merketing dalam era Globalisasi

Pelatihan dan Pengembangan ini difokuskan pada ke lima aspek pada bagan 1.1 yakni mengenai kesadaran, metode pengikutsertaan, metode teknis, penggunaan komputer dan perlengakapan lainnya, serta yang terkait dengan perubahan yang dinamis. Pelatihan dan pengembangan ini dapat dilakukan melalui seminar, workshop dan berbagai pelatihan lain yang terkait.

  • Sinergisitas HRD dalam kinerja UKM dan Hubungannya dengan pengembangan bank syariah (Hubungan Sebab Akibat)

· Kinerja UKM dalam Peningkatan Asset Liquid (piutang Musyarakah) Bank Syariah

Dengan peningkatan pembiayaan musyarakah oleh bank syariah pada sektor UKM maka secara otomatis akan meningkatkan kinerja UKM dan berimplikasi pada perkembangan perbankan syariah yang dapat dilihat dari meningkatnya asset liquid pada piutang pembiayaan musyarakah


[1] Kompas. 6 Nov 2007

[3] identifikasi Bank Indonesia, yang disampaikan

pada Seminar Akhir Tahun Perbankan Syariah 2005

[5] Majalah Ekonomi Syariah Vol… Edisi …. Tahun …..



Suasana pagi Jakarta adalah sebuah rutinitas yang tak lepas dari berbagai kesibukan lalu-lalang menuju pusat bisnis dan membuat ruas-ruas jalan menuju daerah tersebut sangat padat. Masyarakat yang bergelut dalam aktivitas tersebut nampaknya harus bersiap-siap ‘Pamer Paha’ (Padat Merayap Tanpa Harapan) atau ‘Pamer Beha’ (Padat Merayap Besar Harapan) setiap hari dalam balutan kemacetan lalu lintas yang sangat besar andilnya dalam meningkatkan tabungan polusi udara Jakarta.

Penanganan Salah Pola

Di sini pemerintah besar andilnya dalam menciptakan kesemerawutan Ibu Kota dengan berbagai kebijakan yang tidak menyentuh aspek inti, tetapi justru membuat Jakarta makin macet, sehingga bukan hal mustahil apabila ‘Oksigen’ menjadi barang langka suatu saat nanti. Pemerintah dinilai cenderung meninggalkan perencanaan kota yang berdasarkan jalan (road based) menjadi sistem angkutan yang berbasis rel (rail based). Hal ini dilihat dari masalah kemacetan yang disikapi dengan membangun jalan yang memakan wilayah ruang terbuka hijau atau membuat underpass dan flyover sebagai solusi mengatasi kemacetan yang ternyata justru memanjakan para pengguna kendaraan pribadi karena mobil-mobil mereka akan semakin sering melewati daerah tersebut dan secara otomatis tidak mengurangi kadar polutan dalam udara Jakarta.

Selama ini kebijakan yang dibuat diserahkan langsung pada tangan penguasa, tanpa melibatkan pihak-pihak terkait secara menyeluruh yang memang mengerti dan berkecimpung dalam masalah lingkungan hidup. Selain itu perda yang dibuat selama ini kurang tersosialisaikan dengan baik pada masyarakat sehingga hanya menjadi tumpukan aturan semata, yang jangankan dilaksanakan, mungkin diketahuipun tidak.

Upaya Pemda lain yang dilakukan adalah dengan mengupayakan transportasi massa. Maka proyek macam busway, subway dan monorail pun menjadi salah satu proker besar Pemprov DKI Jakarta. Nampaknya proyek ini hanya menjadi suatu objek komersil pemerintah saja dan beberapa terlihat bernilai instan yang kualitasnya tak dapat dipertahankan macam busway, atau macet karena kekurangan dana seperti proyek monorail.

Pola pembangunan yang mengabaikan Amdal juga turut serta dalam mengubah wajah asri Jakarta tempo dulu menjadi sendu. Salah satunya akibat lemahnya sistem penataan hukum lingkungan dan lemahnya pengawasan masyarakat terhadap sektor industri yang turut menyumbang 30 % polusi udara Jakarta.

Kompleksitas Penanganan Polusi Udara Jakarta Butuh Solusi Komprehensif

Masalah polusi udara Kota Jakarta memang hal yang kompleks sehingga memerlukan penanganan serius.

Pertama, jika salah satu solusi mengatasi kemacetan itu adalah dengan membangun jalan-jalan baru, underpass dan flyover, maka harus diimbangi dengan perluasan ruang terbuka hijau dan peningkatan kenyamanan jalur pedestrian agar para pengguna kendaraan yang bosan dengan kemacetan lalu lintas dapat tertarik dan nyaman berjalan kaki ke tempat-tempat yang masih terjangkau karena 70% gas buang berasal dari alat transportasi serta penggalakan kembali program ‘Sejuta Pohon’ dan ’Hijau Royo-Royo’ yang sudah tak terdengar lagi gaungnya.

Kedua, penanganan kemacetan melalui pengembangan alat transportasi massa harus diimbangi peningkatan kualitas pelayanan publik pada alat transportasi massa yang telah ada seperti kereta api dan buskota. Selain itu perlu dipikirkan dan direncanakan secara matang rencana pembuatan alat transportasi massa yang baru seperti busway, subway, monorail atau water way sehingga tidak terkesan sebagai proyek instan.

Ketiga, penegakan pengawasan terhadap Amdal oleh Bapedal. Terutama dalam hal uji emisi gas buang kendaraan bermotor khususnya alat transportasi massa macam buskota yang masih bisa dibeli legalitasnya, padahal fakta di lapangan hampir tidak ada bus yang tidak mengeluarkan asap hitam saat dijalankan.

Dengan demikian, kompleksitas permasalahan kemacetan dan polusi udara Jakarta dapat berangsur terselesaikan, tentunya dengan dukungan dan partisipasi seluruh warga Jakarta dalam menaati peraturan. Bukan tidak mungkin kedepannya Kota Jakarta dapat selalu menghasilkan udara bersih yang tak hanya sekedar mimpi.

Referensi :

Rhiti, Hyronimus. 2005. Kompleksitas Permasalahan Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Universitas Atma Jaya

Muhammad, Ari. 2006. Jakarta Kota Polusi, Menggugat Hak atas Udara Bersih. Jakarta: Pustaka LP3ES

Kompas, Senin 16 Juli 1007

www.ekspat.or.id



Kita tercipta memang bukan sebagai malaikat yang tak urung mengenal dosa, atau terlahir sebagai iblis yang tak pernah suci dari perbuatan-perbuatan tercela tetapi kita terlahir sebagai makhluk dengan dua sisi malaikat dan iblis tersebut. Bagai bumi yang tak pernah berhenti berputar kadang gelapnya malam menyelimuti diri kita dan tak pernah mengizinkan kita untuk merasakan betapa hangatnya cahaya, terang yang berseri dengan penuh rasa semangat untuk mengisi dan memaknai arti putih itu, namun terangnya siang pun tak bisa tak lekang untuk menjaga kita dari gelap yang mungkin dapat melelapkan kita.

Tulisan ini memang terlalu ideal, namun seperti para filusuf yang tak pernah jera berfilsafat untuk terus mencari pembenaran akan arti hidup dan kehidupan. Ketika makna itu benar-benar datang alangkah nikmatnya hidup dan kehidupan ini.

Bayangkan ketika kita bisa menikmati gelapnya malam hanya untuk beristirahat dan mengevaluasi hari kita dan terlelap dalam semangat akan hari esok yang kan kita buat layaknya mutiara putih seputih susu dan terbersih tanpa ada satu nodapun. Kemudian kita bagun dengan semangat untuk menggenggam mutiara itu dalam hari dan hati kita.

Tuhan tak pernah sia-sia dalam menciptakan apapun. Begitupun hati kita yang terukir bagai pelangi yang menyimbolkan berbagai untaian perasaan hati kita. Ada saatnya kita salah mengukir lukisan hati kita itu dengan goresan hitam rasa buruk sangka, maupun sikap ‘discontrol’ kita terhadap apa yang semestinya pantas kita lakukan atau tidak. Jika rasa dengki, dendam dan cemburu itu memang tak bisa dihilangkan, maka mungkin keihklasan dan kesyukuranlah yang akan menuntun kita untuk tak pernah rela melukis hati kita dengan warna-warna yang tak lagi membuat hati kita indah.

Semoga dengan rasa cinta kita terhadap indahnya lukisan diri, kitapun tak kan membiarkan lukisan-lukisan hati yang lainnya ternodai dengan begitu banyak noda kesalahpahaman, ketidaksukaan dan ketidakberdayaan kita dalam mengendalikan diri, maka mungkin lukisan bumi kita ini adalah bagian cermin kecil dari indahnya taman surga.

Ada saat-saat di mana kita terkadang tak bisa mengendalikan diri kita sendiri, terlalu cepat terperangah, larut dan tenggelam dalam lautan jiwa asing yang bukan milik kita. Ketika itu apakah kita bisa dengan cepat keluar dan seketika membangun lagi diri kita yang dulu bahkan mungkin jauh lebih baik dari apa yang sebelumnya kita miliki?

-Nda-

Ak/FE




{October 6, 2008}   Sahabat

sahabat itu..

Bukan seseorang yang ada dengan kata-kata..

Bukan juga orang yang ada dengan raganya..

atau yang bisa mecintai kekurangan kita..

lebih..

dialah pendamping,,
dalam setiap do’a yang mengantarkan kita,

menuju tanah kebahagiaan
dan kehidupan dengan penuh cinta..



{October 6, 2008}   Do’aku untuk Tuhanku

Tuhan, aku begitu sadar akan setiap kekurangan yang Kau beri atas segala kelebihan manusia

Akupun akhirnya tau, betapa aku bisa bersyukur..

ya Allah, rasa sayangMu memang takkan pernah berkurang..

hanya waktuku yang perlahan hilang..

Do’aku sederhana Tuhan,

Jadikan jiwaku adalah kekuatanku!!

Rasa sakit dan penderitaan boleh hancurkan ragaku,

tapi jangan biarkan hatikupun rusak..

dan tak lagi bisa mrasa

betapa begitu banyak cinta



{October 6, 2008}   4 Hari yang Berarti

Puluhan pasang tapak kaki kita

Pernah merasakan lunaknya tanah-tanah basah di tempat itu

Namun, hentak derap yang tak menggema seperti di sini

tak jadikan kita lantas ingin mundur

Meski kegelapan yang sambut kita datang

Meski tetes kahidupan begitu jauh dan susah didapati

Walau untaian huruf tak dapat satukan kita,

Namun tak ada keluh..

Malah terselimuti dengan begitu banyak cinta

canda, tawa, haru, dan keindahan-keindahan

yang tak pernah kita dapatkan di sini

Abadi..

Tergores dalam tiap ingatan kita,

Kala pagi menyapa,

kitapun terburai oleh lelah namun itu teganti

dengan gantungan senyum-senyum..

di wajah-wajah mungil itu..

Saat malampun datang

harupun begitu terasa kala kitapun dapat saling melengkapi

begitu banyak cinta, ketulusan, dan pengorbanan yang kita dapat meski harus ditukar dengan cucuran keringat,

lebaman hitam wajah-wajah kita yang jarang sekali terlelap..

tapi itulah satu yang berharga,

yang kelak kita ceritakan pada anak-cucu kita

*teruntuk teman-temanku di LKM

[mengenang bakti sosial LKM UNJ 22-25 Des ’06]



“Saya yakin dengan teguh dan sungguh-sungguh menemukan dalam diri nyonya penjelmaan cita-cita saya mengenai wanita, yaitu perkembangan budi pekerti yang luhur dan intelektual diiringi dengan sifat kewanitaan yang abadi, mahkota paling indah yang dapat menghiasi kepala wanita. Nyonya telah mewujudkan dengan sempurna pikiran indah Helene Mercier bahwa kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya”(Kartini: dalam suratnya kepada Ny. R.M. Abendanon)

Jauh berpuluh-puluh tahun silam, Kartini dalam usianya yang belia telah memulai menanam tonggak perjuangan perempuan melawan kedigdayaan kaum pria melalui pemikiran yang diabadikan dalam tulisan-tulisannya. Kartini memang lahir dari keluarga bangsawan, namun mata hatinya tak tertutup dan dengan rasa kemanusiaannya perjuangan itu dimulai demi terlepasnya kaum perempuan dari ketertindasan.

Secara histori, prasasti kepahlawanan Indonesia telah dipahat oleh beberapa nama wanita yang mengharumkan namanya lewat perjuangan baik dalam upaya meraih kemerdekaan maupun perjuangan meraih hak-hak kaum perempuan Indonesia. Nama-nama seperti Cut Nyak Dien, Nyai Achmad Dahlan, Marta Christina Tiahahu, Cut Mutiah, R.A Kartini, Walanda Maramis, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain telah mengilhami lahirnya organisasi perempuan pada abad ke-19. Hak-hak kaum perempuan yang terkungkung oleh dominasi kaum pria pun mulai bisa diperoleh kaum perempuan Indonesia yang kini telah dapat menikmati limpahan ilmu pengetahuan serta telah mampu menjalani berbagai bidang pekerjaan yang dulunya hanya digeluti oleh kaum pria.

Berpuluh-puluh tahun kemudian perjuangan itu bertransformasi tak hanya tuntutan pendidikan dan ruang lingkup sektor pekerjaan, tetapi telah meluas memasuki sektor politik.

Di balik Sosok Seorang Perempuan

Jika berbicara tentang perempuan, maka yang pertama kali terlintas dalam pikiran adalah sosok seseorang yang lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah, mengurusi pekerjaan rumah, suami dan anak, selain itu perempuan dipandang sebagai sosok yang perasa, bertindak dan berpkir dengan menggunakan emosi.

Pernyataan di atas memang telah menjadi suatu paradigma yang terlanjur mengakar di tangah-tengah masyarakat Indonesia, terlebih sebagai bangsa yang berbudaya ketimuran, di mana segala nilai-nilai adat-istiadat dijunjung tinggi. Perempuan memang mempunyai andil besar dalam kehidupan. Perannya tidak terlepas dari menjadi seorang istri dan seorang ibu, selain sebagai dirinya sendiri. Besarnya andil ini membuat tanggungjawab yang diemban kaum perempuan tidaklah ringan sehingga muncul beragam masalah. Meminjan data Human Development 2005 mencatat 54,2 % penduduk Indonesia berpenghasilan $ 2 AS per hari, 28 % anak balita hidup menderita karena kekurangan gizi, 310 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup, dan 31 bayi meninggal per 1000 kelahiran. Dari data-data ini dapat dilihat bahwa betapa besarnya beban yang ditanggung mayoritas kaum perempuan Indonesia, karena perannya yang tak lepas sebagi seorang istri dan seorang ibu selain sebagai dirinya sendiri membuat segala sesuatunya memang dikembalikan kepada perempuan untuk dikelola sebaik-baiknya agar anak, suami dan keluarganya dapat hidup sejahtera walaupun di tengah keterbatasan.

Beban pisik maupun psikis yang ditanggung perempuan jika ditilik lebih jauh sebenarnya lebih besar dibanding laki-laki. Kaum perempuanlah yang harus menanggung beban ketika penghasilan suaminya sangat minim atau ketika anak yang ia lahirkan tidak sempurna. Banyaknya beban yang ditanggung ini berbanding lurus dengan ancaman yang dihadapi kaum perempuan itu sendiri.

Antara Kemajuan dan Sisi Ketimpangan

Profil kaum perempuan Indonesia adalah merupakan kekontrasan warna yang timbul antara perekembangannya dengan mereka yang belum dapat menikmati kemajuan atau masih terkungkung dalam aturan-aturan yang mengekang. Hal ini membagi kaum perempuan yang telah mengerti akan haknya, dengan mereka yang masih terbutakan dengan kekuasaan kaum pria sehingga belum mengerti akan adanya persamaan hak yang juga bisa mereka dapatkan, oleh karenanya kaum perempuan akan memilih untuk diam dan tak berbuat apa-apa ketika mereka menerima perlakuan keras dari lingkungan sekitar, khususnya oleh kaum pria. Kekerasan ini dapat dirangkum menjadi empat jenis yakni kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan emosional dan kekerasan seksual.

Di satu sisi perempuan Indonesia memang mengalami kemajuan yang sangat pesat, bahkan prestasi tertinggi di negeri ini sebagai orang nomor satu pernah diraih oleh perempuan, kemajuan perempuan memang telah dapat dilihat di berbagai sektor terutama di kota-kota besar seperti di Jakarta. Berbagai profesi seperti dokter, direktur, manajer dan bidang lainnya yang semula hanya diisi oleh kaum pria kini mulai diisi oleh perempuan, namun hal ini berbanding lurus dengan ketimpangan-ketimpangan yang terjadi. Hal ini terlihat dari masih banyaknya tingkat kematian ibu melahirkan dan keterbelakangan pendidikan perempuan-perempuan Indonesia terutama di daerah-daerah terpencil. Selain itu pemerintahpun kurang mengakomodir keberadaan perempuan yang tercermin dari minimnya alokasi dana untuk pemberdayaan perempuan. bahkan di beberapa daerah seperti di Tasikmalaya, alokasi dana pemberdayaan perempuan yang telah ditetapkan hanya bisa dicairkan sepertiganya dan sisanya justru digunakan untuk belanja pegawai dan, belanja barang dan jasa serta dana perjalanan.

Kemajuan ini ternyata berbanding lurus dengan ketimpangan yang terjadi. Banyak perempuan-perempuan Indonesia yang masih harus menghadapi dilema baik dari dalamnya sebagai individu yang utuh maupun perannya sebagai seorang istri maupun sebagi ibu. Perempuan-perempuan ini harus beradaptasi dengan keadaan yang dialaminya dan sekuat tenaga mencari jalan keluar itu. Banyak dari mereka akhirnya harus berada di tengah panasnya udara Ibukota dengan menjadi pengemis-pengemis di perempatan lampu merah, menjadi loper koran bahkan pekerjaan menjadi kondekturpun terpaksa dilakoninya demi sesuap nasi dan sebekal ilmu untuk anak-anaknya yang harus ia bayar mahal lebih dari cucuran keringatnya. Kenyataan ini nampaknya merupakan dampak masa lalu di mana kaum pria mendominasi kaum perempuan, mengurungnya dalam kerangka norma dan tak membiarkannya menggenggam sedikit ilmu, sehingga ketika ia keluar tak ada bekal yang cukup dan pada akhirnya pekerjaan apapun dijalaninya.

Ketimpangan lain yang masih terjadi hingga saat ini adalah ketimpangan dalam hal tangung jawab dalam urusan rumah tangga. Seorang suami adalah kepala keluarga yang notabene-nya hanya bertanggungjawab pada urusan di luar rumah yaitu pekerjaan, sedangkan tanggung jawab istri adalah dalam hal pengurusan rumah dan pendidikan anak-anak. Ini memang telah menjadi suatu paradigma yang berkembang luas di tengah masyarakat yang menganut paham patriarkis sehingga kaum perempuan semakin terbebani dengan besarnya tanggung jawab yang sama sekali tak sebanding dengan hak-hak yang diperolehnya.

Pengembangan Salah Pola

Kaum perempuan Indonesia hingga saat ini tak pernah memadamkan api perjuangannya. Namun, nampaknya pengembangan yang telah dilakukan selama ini adalah salah pola. Perempuan memang telah bebas menentukan pilihan dan jalan hidupnya sendiri, namun perkembangan yang terjadi ini nampaknya hanya dari sisi akademis saja, sementara pengembangan dalam hal afeksi dirasa sangat kurang sekali. Justru terjadi ketimpangan antara tanggungjawab akan tugas dan hak yang ia miliki, sehingga masalah-masalah yang timbul akibat adanya kelemahan dalam mengimplementasikan sikap diri dalam mental yang tangguh masih jauh dari harapan.

Banyaknya kasus kekerasan dalam rumah tangga ternyata tak hanya dilakukan oleh para suami, tetapi banyak pula yang dilakukan oleh para istri yang menganggap bahwa kedudukannya lebih tinggi dan terhormat dalam hal pekerjaan maupun jabatan yang ia miliki. Selain itu, pola didik anakpun turut terpengaruh oleh lemahnya sikap seorang ibu yang hanya memikirkan dan memperdulikan pekerjaannya saja tanpa memperhatikan perkembangan anak apalagi untuk dapat dijadikan contoh.

Selama ini lembaga-lembaga pemberdayaan perempuan dan lembaga adat, selain sebagai wadah kegiatan sosial kaum perempuan, yakni arah advokasi perjuangan perempuan Indonesia akan kesetaraan dan persamaan gender, terutama dalam bidang pendidikan, pekerjaan dan politik tetapi belum bisa mengantarkan kaum perempuan menjadi salah satu aset penting dalam posisinya sebagai sumber daya manusia. Namun, terlepas dari itu semua sisi luhur nilai-nilai budi perkerti perempuan Indonesia tidak boleh ditanggalkan demi tercapainya semua cita-cita tersebut yang justru akan menimbulkan dampak lain yakni masalah-masalah dalam rumah tangga akibat kurangnya pengembangan non akademis seorang perempuan untuk menjadi manusia sekaligus wanita seutuhnya.

Rekonstruksi Peran Lembaga-lembaga Pemberdayaan Perempuan : Grow up Woman Resource Development

“Dari perempuan dapat dipancarkan pengaruh besar, yang berakibat sangat jauh, baik yang bermanfaat maupun yang merugikan. Perempuanlah yang paling banyak dapat membantu kadar kesusilaan umat manusia. Dari perempuan manusia menerima pendidikannya yang pertama-tama, dipangkuannya anak belajar merasa, berpikir, berbicara, dan makin lama makin mengerti saya, bahwa pendidikan yang paling awal itu tidak tanpa arti bagi seluruh kehidupan. Dan bagaimana ibu-ibu Bumiputera dapat mendidik anak-anak mereka kalau mereka sendiri tidak terdidik?”(Kartini: dalam suratnya kepada Ny. R.M. Abendanon)

”Alam bukan modal yang utama dari suatu bangsa,

Tetapi manusianya.

Dan yang terpenting dari manusia bukan otaknya,

Bukan pula fisiknya, tetapi sikap dan mentalnya…..”

(F.X. Oerip S. Poerwopoespito)

Kedua pernyataan tersebut nampaknya bukanlah suatu tinjauan dari sudut pandang pribadi belaka tanpa bisa dipertanggungjawabkan faktanya. Di sini tampak jelas bahwa banyak ketimpangan-ketimpangan yang terjadi dan dialami kaum perempuan bukanlah semata karena kesalahan kaum pria tetapi kurangnya bekal ilmu yang dimilikinya turut andil dalam menciptakan kondisi ketertimpangan. Hidup di negeri dengan peringkat penduduk terbanyak ke lima di dunia membuat masyarakatnya sangat pluralis dan menjunjung tinggi adat-istiadat yang dianutnya. Lebih dari 300 suku yang mendiami bumi Indonesia dari Sabang sampai Merauke membuat berbagai persoalan klasik mengenai keterkungkungan kaum perempuan tidak dapat tertangani secara baik, hal ini karena memang adanya perbedaan norma-norma yang mengatur posisi dan peran kaum perempuan terutama yang menganut paham patriarkis. Walaupun ada beberapa daerah seperti Sumatera Barat yang memang menganut paham matrilineal di mana perempuanlah yang memegang kedudukan dan peran tertinggi dalam hukum adat.

Di sisi lain advokasi perjuangan perempuan Indonesia saat ini tak lagi hanya urusan pendidikan dan pekerjaan semata, tetapi tengah memasuki kancah perpolitikan. Kuota 30% nampaknya masih hangat untuk diperbincangkan dan terus diperjuangkan oleh kaum perempuan Indonesia. Namun jika ditilik lebih jauh apakah tuntutan ini telah sesuai dengan kondisi perempuan Indonesia saat ini, mengingat masih banyak perempuan yang masih hidup dalam kelaparan ilmu pengetahuan dan ketertinggalan akan kemajuan zaman di mana kesemuanya menuntut penguasaan akan berbagai teknologi. Tanpa adanya suatu hubungan (relationship) antara lembaga-lembaga pemberdayaan perempuan dengan komunitas kaum perempuan itu sendiri, nampaknya pengisian jumlah kuota ini hanya sekedar ’memenuhi kuota’ saja, tanpa melihat apakah individu tersebut memang mampu secara intelektual maupun afeksi untuk tetap memposisikan dirinya.

Di sini jelas perlu adanya rekonstruksi peran lembaga-lembaga pemberdayaan perempuan, termasuk pada tingkat lembaga-lembaga adat. Rekonstruksi ini dapat dilakukan salah satunya dengan membuat Women Resource Developmet. Secara umum gambaran Women Resource Development (WRD) dalam lembaga-lembaga adat dan pemberdayaan wanita ini memang diilhami dari adanya Human Resource Development (HRD) dalam kebanyakan perusahaan di mana fungsi departemen ini adalah dalam hal pengembangan SDM perusahaan agar dapat menjadi pekerja yang memiliki kompetensi tinggi dan tangguh akan perkembangan dan tuntutan zaman. Hal ini bertujuan sebagai wadah tempat belajar non akademis bagi kaum perempuan agar ia tetap dapat menjunjung norma adatnya dan mengkorelasikannya pada kehidupan berbangsa di mana menuntut perannya dalam posisi kehidupan masyarakat pluralis Indonesia.

Pola pengembangan dengan membuat Women Resource Development (WRD) ini dapat dilakukan dengan dua pola pengembangan. Pertama, yakni pola pengembangan untuk perempuan yang mutlak hanya sebagai ibu rumah tangga, pengembangan yang dilakukan dalam Women Resource Development (WRD) dapat dilakukan misalnya dengan membuat kegiatan sharing dan mentoring mengenai psikologi perkembangan anak, workshop bedah dunia anak yakni bedah bacaan, musik dan film, pengembangan skill communication, serta pelatihan ESQ.

Kedua, yakni pola pengembangan untuk perempuan yang mempunyai pekerjaan di luar rumah, pengembangan yang dilakukan dalam Women Resource Development (WRD) selain kegiatan yang sama dengan yang dilakukan oleh perempuan-perempuan non pekerja kegiatan lain yang dapat dilakukan misalnya dengan membuat kegiatan sharing dan mentoring mengenai manajemen diri dan waktu. Dengan demikian, maka diharapkan pemberdayaan perempuan saat ini dapat lebih ditingkatkan kualitasnya terutama dalam hal pendidikan pertama yang akan ia berikan pada anaknya kelak, agar dapat menjadi salah satu human capital (SDM) yang dapat dijadikan sebagai bekal pembangunan bangsa Indonesia ini.

Peran lembaga-lembaga adat sendiri sangat penting dalam mengakomodir nilai-nilai vital adat budaya yang belum berkorelasi dengan sistem pemerintahan. Hal ini karena memang belum adanya perda-perda yang mengatur dan merevitalisasi peran lembaga-lembaga pemberdayaan perempuan dan lembaga adat tersebut. Dengan adanya revitalisasi serta mengkonstruksi pola pengembangan perempuan, maka diharapkan peran lembaga ini tak hanya mengakomodir kaum perempuan dengan kegiatan-kegiatan rutin yang dapat dinilai hanya sebagai pengisi waktu senggang, tetapi dapat lebih diperkaya dengan pembinaan-pembinaan moral dan budi pekerti luhur. Sehingga ketika terjun di dunia masyarakat yang mayoritas bersifat plural, kaum perempuan dapat memposisikan dirinya dan tetap menjadi salah satu sumber kekuatan untuk terciptanya generasi-generasi cemerlang masa depan dalam bumi yang damai.

Perwujudkan Perempuan Sejati yang Menjadi Manusia Seutuhnya

Dengan menyentuh aspek-aspek yang nampaknya selama ini masih jauh dari penglihatan termasuk di dalamnya merevitalisasi dan mengkonstruksi peran lembaga pemberdayaan perempuan, maka solusi komprehensif mengenai permasalahan perempuan Indonesia akan dapat diselesaikan. Bahkan bukan tidak mungkin akan dapat dijadikan suatu potensi sumber daya yang sangat potensial bagi pembangunan Indonesia ke depannya.

Peran Lembaga-lembaga adat yang tak hanya mewadahi pengembangan kegiatan-kegiatan sosial dan pengembangan kesejahteraan keluarga, tetapi dengan adanya Woman Resource Development, penulis mengharapkan maka dapat membantu mewujudkan perempuan sejati tanpa berhenti menjadi manusia seutuhnya yang memiliki sikap mental yang tangguh dalam posisinya sebagai salah satu modal utama pembangunan dan pengembangan suatu bangsa dengan tetap bersemboyan ”Bhineka Tunggal Ika”.

Referensi:

Buku

Poerwopoespito, F.X. Oerip S dan T.A. Tatang Utomo. 2000. Mengatasi Krisis Manusia Di Perusahaan: Solusi Melalui Pengembangan Sikap Mental. Jakarta: Grasindo.

Edisi Terjemahan. 1992. Kumpulan surat-surat Kartini kepada Ny. R.M Abendanon-Mandiri dan suaminya. Jakarta: Djambatan

Artikel Website

http://www.kompas.com/

http://wri.or.id/

http://www.suarakarya-online.com

http://pikas.bkkbn.go.id

http://hqweb01.bkkbn.go.id

http://id.wikipedia.org



{October 6, 2008}   Untuk Dia

Ketika ragat hanya ingin mengakhiri sebuah pencarian
Tentang dia,,,
Tuhan, engkau yang paling tau diriku
Jauh lebih dari diriku sendiri
Memaksaku menanggalkan egoku tuk meminta dia dariMu
Hanya dan hanya jika Engkau mengizinkan
Tentang satu, dua dan ribuan hari mendatang yang aku tak pernah tau
Sungguh begitu aku sulit tuk mengakuinya
Sungguh akupun tak pernah tau
Yang aku tau
Adalah yang aku minta
Jika dia tadirku,,
Dialah peganganku,,
Dialah sandaranku,,
Dialah dekap yang memelukku,,
Tangan yang membelaiku,,
Suara yang menenangkanku,,
Bijak yang menuntunku,,
Guru yang mengajariku,,
Malaikat dalam dosaku,,
Cahaya dalam gelapku,,
Pikiran yang merindukanku,,
Maka jangan ambil dia dariku
Jangan jauhkan jalan kami
Tapi jika dialah takdir guruku
Hanya sejenak persinggahan
Maka izinkanlah aku tuk lebih banyak belajar
Izinkan aku tuk sebentar lagi bersamanya
Karena dia adalah bagian dari ketenanganku, Tuhan!
Semangatku..
Sang bijakku..
Kekagumanku..
Sampai ketika aku tau,
Yakinkan aku Tuhan, itulah yang terbaik



et cetera